Selasa, 05 Juni 2012

KETUA MPW PP-KALTIM

H.M. Said Amin .SH

A. Sosok Yang bersahaja
Muhammad Said Amin demikian nama yang diberikan oleh Ayahanda dan Ibundanya (Almarhum) yang tercinta kepada sosok pemberani, tegas, pantang menyerah namun selalu familiar dan bersahabat ini. Said, demikian panggilan akrabnya, dilahirkan dari pasangan H.M. Amin dan Hj. Sopia Amin Bamatraf (Almarhumah) memang merupakan pribadi yang rendah hati, tidak suka menonjol-nonjolkan diri dan selalu sederhana di dalam tutur kata dan penampilan. Ia lahir pada tanggal 12 Desember 1959 di Ibukota Kalimanta Timur, Samarinda. Kakak pertama dari H. Abdul Rahman dan H. Hanafi, ini mempunyai keturunan Arab dan Kalimantan (Kutai). Suami dan Hj. Firjani, perempuan keturunan Manado-Arab yang dinikahi pada tanggal 29 Agustus 1993 dan ayah dan Nabil Husein, sikembar Nabila dan Nadia ini adalah orang tua yang sangat dekat dengan anak-anaknya.
Said adalah anak muda yang sejak masa kecil amat teguh memegang prinsip. Pemuda yang keseharianya memiliki perilaku yang pandai bergaul ini amat cinta pada keluarganya. Ia amat menghargai kehormatan keluarga. Dalam soal keluarga Said berprinsip bahwa kehormatan keluarga adalah segala galanya. Sebagai seorang putera yang patuh Said amat menghormati kedua orang tuanya termasuk setiap orang yang lebih tua darinya. Ia amat sayang, hormat dan menjunjung Ibundanya. Ia benar-benar sadar akan arti Ibu di dalam kehidupannya. Dalam pandangan Said dan saudara saudaranya Ibunyalah yang sangat berperan dan berpengaruh.
Sejak kecil Said Amin telah memperlihatkan eksistensinya sebaga pemimpin diantara teman-temannya. Gaya kepemimpinan yang tegas dan mengayomi kepentingan orang-orang dilingkungannya membuat proses penokohan dirinya sebaga pemimpin diantara pergaulannya berjalan secara alamiah saja. Sesuai dengan namanya, Said, artinya pemimpin. Tampaknya nama itu telah ikut memberikan pengaruh sehingga walaupun masih muda, Said sudah menjadi pemimpin yang bertanggung jawab pada keluarga dan lingkungan persahabatannya. Said juga termasuk pemuda yang peduli terhadap kepentingan orang susah. Selama masa remaja maupun ketika telah menjadi tokoh muda di organisasi yang digelutinya, ia amat peduli terhadap kepentingan kalangan rakyat kecil terutama dari kalangan tidak mampu maupun anak-anak yang putus sekolah karena masalah ekonomi. Itu juga yang mendorongnya untuk memilih kuliah di hidang hukum.
Said berpandangan bahwa menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 di Samarinda sampai kemudian dirinya mendapat gelar sarjana Hukum adalah bagian dan upayanya untuk memahami hukum, menjaga kehormatan keluarga dan berpihak membela rakyat kecil. Itu sebabnya ketika Said lulus dari Fakultas Hukum ia sempat menggeluti praktik pengacara selama 3 tahun. Namun kemudian Said lebih melihat bahwa perjuangan untuk kepentingan sosial harus lebih akurat ditempuh melalui pemantapan kuatan ekonomi dan memperbanyak aktivitas sosia peduli rakyat. Sehingga kemudian ia meninggalkan dunia kepengacaraan. Dan hasrat untuk berbuat bagi rayat kecil dan kalangan ekonomi lemah itu pula yang secara diam-diam dan berproses telah menginspirakannya untuk mendirikan sebuah sekolah bagi rakyat. Dan sesuai amanah dan Ibundanya yang amat ia sayangi, rencana itu direalisasikannya melalui pendirian Pesantren Modern yang diberi nama Nabil Husein, sesuai nama putera pertama tercintanya.
Said Amin adalah sosok pemuda pekerja keras. Apapun yang dikerjakan pasti diselesaikannya dengan serius dan tekun. Apa yang ada di depan mata mampu dikerjakannya / diselesaikan dengan tuntas dan dilakukan untuk kepentingan orang banyak. Satu hal yang kemudian menjadi kunci sukses yang dorongnya sehingga berhasil menekuni dunia usaha adalah “Kepercayaan”, “Ketekunan” dan “Kerja Keras”. Bagi Said Kepercayaan, Ketekunan dan Kerja keras adalah modal utama untuk mandiri. Tidak lari dari kenyataan walaupun itu pahit tetapi konsekuen dalam menghadapi dan memecahkan problem-problem kehidupan termasuk sesulit apapun merupakan sikapnya dalam menekuni dunia usaha. Inilah yang membuat sehingga ketika ia mulai serius menggeluti dunia usaha maka ia mampu tampil dan berhasil. Sebagai pengusaha, Said selalu berpandangan bahwa memperoleh hasil jerih payah yang halal juga merupakan landasan usahanya. Dalam aktivitas kesehariannya ia proporsional dalam membedakan mana persoalan-persoalan pribadi atan keluarga yang harus diselesaikan di rumah, masalah usaha dikantor dan masalah organisasi di sekretariat.
Pengalaman - pengalaman hidup akan dapat diperoleh dalam sebuah proses perjalanan mencari jati diri atau pengaktualisasian diri. Perjalanan hidup H. M. Said Amin dalam menemukan jati dirinya penuh dengan liku, menarik dan menyimpan segudang kisah yang apa bila kita tengok ke belakang, maka akan sulit menebak bahwa itulah dirinya. Said Amin datang dari masa lalu yang boleh dibilang cukup keras dan sekarang mampu mempersembahkan karya terbaiknya dalam ikut membangun pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas prima serta bertaqwa kepada Allah SWT, sebagai realisasi pengabdiannya bagi bangsa, negara dan agama. Ke depan hasil pendidikan yang disiapkannya melalui Ponpes Nabi husein akan menghasilkan kader - kader terbaik bangsa yang berkualitas ilmu, iman dan taqwa serta mengabdi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera.


Sekelumit dan perjalanan hidup yang merupakan pengalaman ini, paling tidak dapat diambil sebagai bahan refleksi diri untuk melangkah ketahap kehidupan selanjutnya. Bagi Said pengalamannya ini membuat ia menyadari akan kekurangan dan bagaimana mengambil hikmahnya sebagai seorang muslim. Sebab orang yang beruntung adalah orang yang dapat memaknai dan mengambil hikmah dari sebuah pengalaman sekecil apapun itu.

Said Amin benar-benar telah dianugerahi karunia yang besar dari Allah SWT. Dan hanya orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari perjalanan hidup dan pengabdiannya.
Yang menarik dalam diri H. M. Said Amin adalal kiprah dan kegiatanya di bidang agama yang ia amat yakini merupakan tiang utama untuk menjadi seorang pengusaha, aktivis pemuda yang memiliki komitmen terhadap agama, bangsa, dan masyarakat. Bagi Said agama adalah pancaran diri dalam meniti hidup, terutama menghadapi perkembangan globalisasi yang ada, salah sedikit kita melangkah, maka kita akan terperosok dalamsebuah jurang. Dengan agama kita bisa meniti hidup dan bersikap hati-hati.. Selain dari segala anugerah kelebihan, Allah juga menitipkan hal yang kita sebut “kekurangan”. Hal ini jelas termaktub dalam Al Qur’an Surah Az Zukhruf (43):32 yang berbunyi:
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain berapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

B. Pesan Suci dari Ibunda.
Orang tua adalah panutan dalam keluarga. Bagi setap insan, orang tua yang mereka cintai itu adalah yang pertama memberikan perhatiann padanya semenjak mereka masih bayi, terlebih seorang ibu sembilan bulan sepuluh hari, kita menyatu dalam dirinya, kemudian setelah lahir Ibunda mendengar tangisan, rengekan dan tawa yang keluar dan bibir bayi yang belum mengerti apapun kecuali menyerahkan diri sepenuhnya disalam pelukan penuh naluri cinta kasih dalam diri Ibu dan Ayahandanya. Ibunda membesarkan, mendidik, dengan penuh disiplin dan tegas, serta menyerahkan seluruh cinta kasih semenjak masih dalam buaian sampai seorang anak menjadi dewasa dan mandiri. Maka tidak ada lagi alasan untuk mengabaikan orang tua, apalagi seorang ibu. Begitupun arti Ibunda tercinta bagi sosok Muhammad Said Amin, putra pertama dan seorang ayah pensiunan TNI AD dari kesehatan. Ibunya pengusaha perumahan. Sebagai pengusaha perumahan, Ibu Said pernah membangun perumahan di Jalan Aminah Syukur, Jalan Merak dan berbagai tempat lainnya.
Said sangat dekat dengan orang tuanya, terlebih pada sosok sang ibu yang keras dan tidak mau melihat anak-anaknya gagal dalam pendidikan. Sang ibu bersusah payah membantu sang suami yang pensiun TNI dalam hal membesarkan dan menyekolahkan anak - anaknya. Perjuangan kedua orang tua yang dihormati dan dicintainya sungguh luar biasa. Sifat ayahnya keras dan pendiam, lain hal dengan ibunya yang banyak berkomunikasi dengan ketiga anaknya. Oleh karena itu Said memang lebih dekat dengan ibunya, yang banyak mendidik dan mengurusi masalah pendidikan kegi anaknya. Sedangkan ayahnya memang kebanyakan luar rumah, menjalankan tugas sebagai seorang tentara.
 H. M. Said Amin selalu teringat dengan pesan-pesan orang tua apalagi pesan ibu. Ibunya pernah mengatakan bahwa: Ibu tidak menginginkan anak-anak Ibu mendapatkan sesuatu apapun dari usaha-usaha yang tidak benar, karena Ibu membesarkan anak-anak Ibu dengan uang yang halal”. Itulah yang paling sering dibicarakan dan selalu diingatnya. Perkataan atau nasehat ibunya di atas mengandung arti yang dalam bagi seorang Said karena ibunya betul-betul menginginkan anak - anaknya menjadi anak yang saleh.
Pondok Pesantren Nabil Husein yang didirikn oleh Said Amin merupakan realisasi dan pesan suci sang ibu. Dia bersyukur karena mampu melaksanakan penbangunan pesantren Nabil Husein ketika Ibundanya yang amat dicintainya “dipanggil” menghadap sang Kuasa. Said Amin puas karena Sang Ibu tercinta sempat melihat pesantren yang dibangunnya itu. Sebagai aktualisasi dan rasa cinta, hormat dan penghargaan yang amat tinggi pada Ibunda tercinta maka ketika ibunya berpulung ke Rahmatullah, Sang ibunda yang amat dicintainya dimakamkan dilingkungan Pondok Pesantren Nabil Husein. Bagi Said Amin, “Ibundanya merupakan sumber yang selalu memberikan inspirasi dalam hidupnya”.
Dalam memperingati haul satu tahun ibunya pada tanggal 24 November 2002 (27 Ramadhan 1423 H), Said mengundang seluruh keluarganya, handai taulan, anak Yatim piatu dan sahabàt-sahabatnya di lingkungan organisasi kepemudaan baik di daerah maupun tingkat Nasional, termasuk tokoh-tokoh organisasi Pemuda Pancasila wadah kepemudaan nasional yang digelutinya di Samarinda Kalimantan Timur, untuk mendoakan sang ibunda tercinta.
Said yakin bahwa bila orang tua telah meninggal, maka terputuslah semua amalannya, kecuali terhadap tiga perkara yaitu: Amal jari’ah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya. Itulah sebabnya dalam setiap akhir sholatnya ia tidak pernah lupa untuk mendoakan orang tuanya juga orang-orang yang dikasihinya selama ini agar diberikan Allah SWT keselamatan dunia dan akhirat.
Sesungguhnya Allah SWT benar-benar akan mengabulkan do’a setiap hamba-Nya sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 186:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia memohon kepadaku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepadu-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran"






2 komentar:

  1. subhanallah... amik said seorang motivator bagi saya... smoga beliau skeluarga selalu d lindungi Allah SWT. Amin

    BalasHapus
  2. smoga almarhum ibunda bapak said amin mendapat tempat yang baik sebagai ganjaran atas amal beliau yang telah membesarkan dan mendidik seorang hebat yg perduli terhadap sesama,dan dalam hidupnya slalu memberi manfaat kepada orang di sekitarnya.... amin.

    BalasHapus